Ruang jahit crafteline

Wujudkan Mimpi Besarmu dengan ASUS VivoBook A516

Tidak terasa ini sudah tahun ke-5 saya sebagai seorang full time freelancer. Jadi freelancer itu mungkin kaya anak-anak yang sekarang lagi PJJ, ngga bisa ngobrol sama temen-temen saat makan siang bareng, ngga ikut gathering, ngga ada insentif tambahan. Tapi juga ngga terjebak macet ke kantor, pulang lembur, atau kebijakan ini itu yang kadang memberatkan.

Flashback sebentar ya ke jaman gadis. Dulu awal masuk kerja sebagai fresh graduate, saya ditempatkan di tim grafis, di sebuah kantor advertising agency di bilangan Jakarta Utara. Kerjaan saya cuma sekedar resize layout dari master design yang sudah dibuat oleh kakak-kakak art director. Desainnya pun masih seputar iklan cetak sampai ke printilannya, seperti baliho, flyer, hanging mobile dan teman-temannya. Lama-kelamaan mulai dikasih kepercayaan buat bikin Final Artwork (FA) tapi masih dibawah pengawasan kepala divisi. Mengerjakan FA ini mudah tapi harus extra teliti. Desain FA ini yang nantinya akan dibawa ke percetakan, jadi kita harus memastikan ukurannya tepat, warnanya matang, copy ngga boleh salah, dan untuk packaging harus dipastikan barcodenya sesuai.

Pernah suatu ketika di awal-awal saya dikasih tanggung jawab mengerjakan FA sebuah packaging obat batuk, saya ngga tahu soal barcode. Saya hanya memastikan ukuran sesuai, dan semua copy sudah benar. Kepala divisi pun tidak mengetahui jikalau barcodenya masih barcode asal tempel, belum disesuaikan dengan produknya. Hingga beberapa hari kemudian, ada kabar bahwa barcode itu salah dan materi sudah terlanjur di cetak. Saya diberitahu kesalahan saya, tapi saya ngga tahu kalau ternyata dibalik itu ada gaji yang dipotong. Bukan gaji saya, tapi sang kepala divisi, karena dialah yang dianggap bertanggung jawab. Saya mengetahui ini belakangan dan merasa bersalah sekali. Tapi dari kesalahan juga lah kita bisa belajar.

Bekerja di industri kreatif biasanya di dominasi oleh anak-anak muda. Tapi kantor pertama saya itu, saat saya disana, sudah memasuki perjalanan ke 27 tahun. Ada sebagian pekerja yang loyal ada disitu sejak awal perusahaan dibuka. Usia mereka tidak bisa dibilang muda lagi, tapi karya-karyanya masih sangat bisa diandalkan. Saya yang saat itu masih anak baru kinyis-kinyis, sempat mempertanyakan ke diri sendiri, apakah saya juga akan sampai tua bekerja di kantor kreatif macam ini?

Jaman masih jadi anak kantoran bergabung dengan geng maksi ciwi ciwi (doc. pribadi)

Pertanyaan itu baru kemudian bisa saya temukan jawabannya ketika pindah ke kantor ke dua. Di kantor itu saya ‘naik jabatan’ menjadi junior art director, dan masuk ke dalam tim berisi 3 orang, saya sebagai Jr. AD, dan 2 orang lainnya sebagai copy writer dan team head. Mereka adalah bapak-bapak berusia sekitar 10 dan 20 tahun di atas saya. Pada suatu ketika, disela-sela kami brainstorming untuk sebuah iklan TV, copywriter saya bercerita bahwa dia baru saja dipanggil HRD untuk menemui seorang tamu. Tamunya adalah bapak-bapak yang sudah sepuh. Beliau mencari pekerjaan dan menceritakan bahwa dulunya dia adalah seorang copy writer. Singkat cerita, sang tamu yang melamar kerja itu tidak diterima, sudah lewat umur katanya. Cerita itu jadi pembahasan di tim saya, terutama sang team head yang merasa umurnya kerja di kantor juga sudah hampir kadaluarsa. Sejak itu saya tahu, bahwa saya harus punya plan lain sebelum saya merasa harus menyingkir dari industri ini karena tergantikan oleh ide-ide (dan anak muda) segar berikutnya.

Setelahnya, saya kemudian pindah ke 2 kantor lagi, termasuk juga pernah mencoba di client side sebuah produk FnB. Tetap menjadi desainer, tapi berkantor di tempat klien. Jadi kalau di kantor klien itu sudah punya divisi kreatif sendiri, dia tidak perlu order iklan ke advertising agency, hal ini tentu saja akan mereduce pengeluaran belanja iklan.

Di perusahaan klien ini saya sudah jadi senior art director, sehingga pekerjaan saya dibantu oleh teman-teman tim. Saat pekerjaan sudah selesai atau ketika ada waktu-waktu senggang, saya mulai untuk mencoba nge-bid pekerjaan dari situs-situs freelancer. Saya yang saat itu sedang hamil anak ke 2 dan 3 (kembar), merasa bahwa saya harus memikirkan untuk tidak lagi bekerja di kantor dan mulai menjadi freelancer sambil mengurus anak-anak. Ternyata kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan. Dengan anak 3 di usia balita, otomatis membuat saya kesulitan untuk duduk di depan laptop. Belum lagi laptop saya adalah laptop lungsuran yang kacanya retak diagonal sepanjang layar. Ini membuat saya kesulitan ketika harus mengerjakan desain.

Dengan kenyataan itu, saya putar haluan menjadi penjahit amatiran yang belajar dari internet. Dengan 2 asisten rumah tangga yang membantu saya menjaga anak-anak kala itu, saya punya cukup waktu untuk menekuni dunia menjahit. Sempat 3 tahun saya fokus disini, membuat tas dan dompet berbahan dasar kain. Saya sampai punya toko online dengan brand Crafteline yang punya beberapa pelanggal tetap.

Menekuni dunia jahit sambil mengawasi 3 anak balita (doc.pribadi)

Sayangnya, keadaan ekonomi berubah. Saya mulai kesulitan untuk membayar 2 ART sehingga terpaksa harus memberhentikan salah satunya. Beberapa bulan kemudian, mbak yang tersisa pun ikut pamit karena ingin program hamil. Tidak mudah mencari mbak pengganti, dan dengan pertimbangan si kembar sudah berusia 3 tahun, saya memutuskan untuk menutup toko jahitan dan full menjadi ibu rumah tangga.

Saya menikmati kebersamaan saya dengan anak-anak, tapi tidak bisa dipungkiri itu membuat saya rendah diri dan kangen berkarya. Ingin kembali menjahit, tapi ini riskan. Saya takut anak-anak ikut bermain sengan jarum dan mesin jahit ketika saya lengah. Lagi pula membuat 1 produk handmade itu butuh waktu yang lumayan lama. Untuk kembali ke kantor pun rasanya berat meninggalkan anak-anak. Dan untuk mencoba jadi freelancer lagi, laptop saya malah mati total ketika hendak di servis layarnya.

Dengan kondisi atm yang masih kadang kembang kadang kempis, akhirnya menekadkan untuk membeli laptop second dengan spek yang dirasa masih kuat untuk desain. Laptop itulah yang sampai saat ini saya pakai untuk jadi freelancer dan menulis cerita ini. Usianya sudah tua, kabel charger sudah pantang dilepas, dan saya bisa main 1-3 round game HomeScapes sembari menunggu photoshop launch.

Dan disinilah saya sekarang, 5 tahun menjadi freelancer, dengan laptop second, dengan 3 anak yang sedang PJJ, tanpa asisten rumah tangga. Ternyata semua hambatan bisa diatasi kok. Kita Cuma perlu lebih Panjang lagi akalnya buat memanage apapun dan mengatasi tantangan yang ada. Misalnya, di masa-masa terberat pandemic kemaren beberapa klien saya berguguran. Hal ini menyedihkan tapi saya merasa memang sudah diatur demikian, karena kondisi itu berbarengan dengan anak-anak yang PJJ, dimana mereka otomatis membutuhkan laptop saya buat nge-zoom. Saya yang ketika di masa-masa sebelum pandemic punya jadwal pagi musti “ngantor” di rumah, sekarang ya harus ngalah buat gantian pake laptop. Pengen rasanya punya laptop baru, kebetulan kemarin baca blog seseorang tentang laptop ASUS Vivobook 15 A516 yang katanya cukup ringan tapi sanggup diajak ngedesain dan juga ngedit video. Tapi mungkin sekarang lagi disuruh kerja dulu biar bisa nabung.

Pemandangan tiap hari ketika anak-anak baru kelar PJJ dan kemudian saya akan melanjutkan perkerjaan

Otak emang biasanya lebih moncer kalo udah kepepet. Dengan beberapa klien yang hilang, saya pun harus mikir lagi buat cari klien-klien baru. Pucuk dicinta ulam tiba, tepat setahun lalu, sahabat lama saya meminta saya bergabung di manajemen perusahaan barunya yang bergerak di bidang penerbitan buku. Awalnya saya memang sudah suka bantu membuat cover, namun kali ini dia ingin saya bantu lebih. Dengan karyawan yang baru sedikit, otomatis jobdesk masih double-double di masing-masing orang. Saya yang awalnya cuma kebagian desain dan layout, sekarang harus nyicipin ngedit buku juga.

Di setiap hal baru, pasti ada pelajaran dan tantangan baru juga. Termasuk ketika saya ngedit buku ini. Mungkin karena saya terbiasa dengan software grafis, ternyata saya baru menyadari kalau saya belum terlalu kenal dengan tools yang ada di word. Ketika pada suatu ketika teman saya meminta file yang saya edit itu untuk sekalian di layout di word, saya gelagapan. Akhirnya naskah itu dilempar ke teman tim. Sayangnya lagi, ternyata word yang ada di laptop saya ini versi lama. Ketika file masuk ke laptop teman saya, naskahnya jadi acak-acakan apalagi kalau di naskah tersebut ada tulisan Bahasa Arab. Waduh, mau di samakan tipe wordnya pun ternyata punya saya sudah ketinggalan juga. Ya sudah, untuk kali ini hambatan ini masih di pending dulu solusinya.

Ngomong-nomong soal hambatan saya yang satu ini, saya jadi merasa ASUS VivoBook 15 ini bisa jadi solusi buat kendala yang saya alami. Karena di Asus VivoBook 15 ini sudah dilengkapi dengan Microsoft Office Home & Student. Sedikit saya mencuplik dari klaimnya,

“Nikmati semua manfaat dengan PC yang lengkap – PC sudah termasuk Office Home & Student 2019. Aplikasi Office versi lengkap (Word, Excel dan PowerPoint) memberikan semua fungsi yang dibutuhkan dan diharapkan oleh penggunanya. Penggunaan aplikasi Office seumur hidup dapat memastikan Anda untuk selalu memiliki akses ke fitur yang Anda kenal dan sukai. Dilengkapi dengan 100% aplikasi Office asli, software juga akan terus mendapatkan pembaruan keamanan yang rutin untuk melindungi perangkat, program dan data Anda.”

Dan ini baru satu keuntungan yang diberikan ASUS VivoBook 15, karena masih banyak fitur-fitur unggulan yang ditawarkannya lewat seri ini.

Tentang ASUS VivoBook 15 A516

ASUS VivoBook A516 15 inch (src img : asus.com)

Sebagai laptop kelas entry level ASUS VivoBook 15 A516 menawarkan sebuah laptop modern dengan desain elegan dengan berbagai kelebihan, seperti layar NanoEdge-nya yang menawarkan sudut pandang hingga 178O plus lapisan anti-glare yang membuat mata kita nyaman tanpa ganguan dari pantulan silau cahaya. Tidak berhenti disitu saja, seperti saudara-saudaranya yang terbaru, ASUS VivoBook 15 A516 juga punya bezel yang sempit sehingga tampilan di layar bisa maksimal.

Turun ke bagian keyboard, ASUS VivoBook 15 A516 mempunyai Keyboard full-size dengan backlit yang sempurna untuk bekerja di lingkungan yang minim cahaya. Didesain secara ergonomis, konstruksi satu bagian yang kokoh dan key travel 1,4 mm memberikan pengalaman mengetik yang nyaman. Ada satu hal yang paling bikin saya penasaran dengan produk-produk laptop asus keluaran terbaru, yaitu area sensor sidik jadi di touchpad nya untuk bisa otomatis login dengan aman dan lebih praktis karena hanya dengan 1 sentuhan kita tidak perlu lagi mengetik kata sandi. Sementara itu, dilapisan bawah keyboard dan segala macamnya itu, ASUS VivoBook 15 A516 ditambahkan sasis dan lid yang dirancang untuk meminimalisir benturan sehingga pelindungan data kita tetap terjaga.

ASUS VivoBook A516 15 inch
Fitur finger print yang aman dan praktis pada ASUS VivoBook A516 15 inch

Di sisi samping,  ASUS VivoBook 15 A516 dilengkapi dengan port USB-C® 3.2, yang didesain dapat diputar balik yang membuat menghubungkan perangkat semudah mungkin. Ini juga mencakup port USB 3.2 Tipe-A dan USB 2.0, output HDMI, dan microSD reader – sehingga kita dapat dengan mudah menghubungkan semua periferal, layar, dan proyektor saat ini dengan mudah.

Port-port pada ASUS VivoBook A516 yang memudahkan sistem transfer data

“Komputer masa kini memiliki tampilan berbeda karena mereka memang berbeda. Dengan solid-state drive (SSD) dan teknologi terkini, Anda mendapatkan kecepatan, keamanan, ketahanan, dan desain yang cantik. Kami telah melakukan jajak pendapat, dan hasilnya, orang-orang lebih senang saat bepergian dengan PC modern.”

Sebagai seorang desainer grafis, kalau cari laptop ya pastinya harus liat spec ya. Body ok, daleman ikut mendukung ngga? ASUS VivoBook 15 tidak perlu diragukan lagi, karena di dalamnya tertanam prosesor Intel® Core™ i5 generasi ke-10 dengan RAM 8GB, dan grafis diskrit NVIDIA® MX330. Laptop dengan prosesor Intel® Core™ 10th Gen series ke atas didesain untuk performa dan mobilitas. Dengan efisiensi yang tinggi serta dimensi thin and light, laptop menawarkan peningkatan performa dan produktivitas untuk penggunanya. Konektivitas WiFi generasi terbaru juga memungkinkan transfer data 3x lebih cepat dibanding generasi sebelumnya. Point plus bagi saya yang selain bekerja juga harus berbagi waktu dengan anak-anak dan pekerjaan domestik.

Pertimbangan lain saya menyukai ASUS VivoBook 15 A516 ini adalah adanya penyimpanan ganda dengan pilihan SSD PCIe® hinggai 256GB dan HDD hingga 1TB yang dipunyainya. File-file grafis saya yang besar-besar itu sudah pasti bisa bernafas lega dengan kapasitas ruang seperti ini.

Spesifikasi dan kelebihan yang dimiliki ASUS A516

Dari buanyaknya hal yang diangkut di dalamnya, tidak membuat laptop VivoBook 15 A516 jadi bulky. Bobotnya pun bisa dibilang ringan saja, hanya sekitar 1.8kg, dengan 2 pilihan warna yaitu Transparent Silver dan Slate Grey. Ketika nanti pandemi berakhir, dan saya mungkin akan bisa kembali bekerja di playground sambil nunggu anak-anak main, dengan bobot yang ringan seperti ini akan meringankan saya ketika harus dibarengi dengan membawa barang-barang keperluan anak-anak yang lainnya.

Wah, baru menceritakan saja rasanya sudah terbayang di depan mata. Kalau saya flashback ke awal tahun, laptop baru memang jadi salah satu barang yang ingin diupgrade, tentu saja ini diharapkan saling berkesinambungan dengan upgrade skill dan karya juga. Menjadi ibu rumah tangga sekaligus freelancer grafis punya keseruan tersendiri. Tapi saya tidak akan berhenti sampai disini. Saya masih pengen menghidupkan lagi jejahitan saya, tapi kali ini saya pengen jadi pendesain pattern kainnya dan membuat master produk. Saya pengen bisa lapangan kerja. Jadi, mungkin nanti, dibagian pekerjaan saya punya rentetan panjang, jadi desainer grafis, ilustrator, blogger, editor, crafter, dan tentu saja MOTHER.

See you around, folks

Semoga mimpi-mimpi kalian tercapai

 

 

 

 

*“Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS – 15 Inch Modern PC. Bigger Dream, Wider Screen Writing Competition bersama dewirieka.com

41 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *