ASUS ZenBook 14X OLED

Menulis Bersama ASUS ZenBook 14X OLED (UX5400)

Keriuhan sudah terasa di rumah nomor 30 sejak pagi menjelang. Biasanya ini disebabkan dari keributan abang dan kedua adik kembarnya soal siapa yang mandi duluan. Alih-alih memperebutkan urutan nomor satu, ketiga anak ini akan saling tunjuk siapa yang mustinya mandi duluan. Mereka masih enggan beranjak dari depan layar TV, selepas sholat subuh tadi.

Perkara mandi pagi hanya satu dari serangkaian drama yang musti saya nikmati hampir setiap hari. Masih ada episode memilih sarapan, tertukar baju seragam (karena badan kakak dan adenya tak beda jauh), loading laptop sebelum PJJ, dan menjaga si anak tidak kabur dari depan layar, atau malah justru ketiduran saat kegiatan belajar online berlangsung.

Setiap pagi saya hampir tak sempat mandi saat mendampingi si kembar belajar online. Disela-sela itu, saya akan berteriak satu-dua kali kepada si kakak di kamar sebelah. Mengingatkan untuk tidak nge-zoom sambil nonton, selalu membuka kamera, atau sekadar memastikan dia sudah masuk ke kelasnya.

Dua tahun saya menikmati suasana seperti ini. Berusaha untuk menikmati, lebih tepatnya. Karena saya tahu, cerita pandemi semacam ini seperti tidak ada habisnya bagi tiap-tiap individu. Tidak ada orang yang benar-benar siap dengan segala perubahan yang berlangsung mendadak dan masif. Namun saya juga tahu, kita semua sama-sama berjuang untuk menikmati pembiasaan baru ini.

~ Kemana Perubahan Ini Membawamu? ~

Dulu, sebelum bangsa Covid menyerang bumi, komplek perumahan yang saya tinggali ini aman damai, dengan sedikit bumbu konflik klasik antar tetangga. Hanya ada sekitar 50 KK yang tinggal di komplek ini. Sebulan sekali pada akhir pekan, biasanya beberapa warga akan menggelar tikar, menyajikan aneka kudapan, dan bernyanyi dengan iringan organ atau karaoke youtube. Mereka tak peduli tempo dan suara, yang penting semua tertawa. Beberapa anak akan keluar main di sore hari, menyetop gerobang abang somay, burger ala ala, kue putu, sate, dan aneka jajanan lain yang bebas keluar masuk komplek.

Semua rutinitas itu terhenti sejak pengumuman angka positif covid mengingkat tajam. Pintu gerbang kompleks mulai dipasang portal, spanduk, dan aneka pengumuman yang menyerukan imbauan yang seragam. Area bermasker, cuci tangan, jaga jarak, dan yang paling besar efeknya adalah para ojek online dan pedagang tidak boleh masuk ke komplek. Walau kami tahu bahwa itu semua bermuara pada tujuan yang baik, namun tentu ini membawa perubahan yang besar sekali, bagi pedagang dan juga warga.

Warga harus usaha lebih ketika mau belanja. Yang tadinya cukup menanti pedagang sayur lewat depan rumah, sekarang harus ke supermarket atau pasar. Beruntunglah yang punya kendaraan, nah orang-orang yang seperti saya, yang tak bisa berkendara dan mengandalkan ojek online, tentu harus punya solusi tambahan. Untuk menuju tempat-tempat yang tak begitu jauh, saya bisa jalan kaki. Sedangkan jika harus menggunkan jasa ojek online, saya harus rela jalan kaki dulu keluar komplek dan order ojek di pinggir jalan.

Jika biasanya ketika saya malas memasak, saya akan mengandalkan pedagang lewat atau order makanan. Kala komplek tutup, order makanan hanya bisa sampai pos satpam dan kami harus mengambilnya sendiri. Jadi, setiap hari saya harus memasak jika tak mau repot-repot jalan kaki mengambil order makanan di pos atau beli makanan keluar kompleks. Sama repotnya.

Untuk meminimalisir bolak balik keluar, saya akhirnya belajar soal food preparation. Belanja seminggu sekali, untuk bisa memenuhi kebutuhan memasak selama seminggu itu. Hmmmm.. sebenarnya kalau kita menilik sisi baiknya, sepertinya perubahan ini membawa dampak baik untuk saya. Saya jadi rajin masak, nambah ilmu soal food prep, dan lebih sehat karena banyak jalan kaki.

~ Bernegosiasi Dengan Waktu ~

Bagai dua sisi dalam sekeping mata uang, aneka perubahan yang saya alami akan mempengaruhi keseluruhan ritme hidup saya. Saya seorang ibu rumah tangga, yang kebetulan juga seorang pekeja lepas sebagai desainer grafis. Waktu-waktu yang tadinya saya pakai untuk mengerjakan layout majalah, membuat cover buku, atau menggambar, hampir semuanya diambil alih untuk kegiatan sekolah online, menghabiskan waktu lebih banyak untuk belanja, dan bolak balik ke dapur untuk membuat aneka makanan pesanan anak-anak.

Namun, sebagaimana kita percaya bahwa Tuhan telah mengatur segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Saat waktu saya banyak terserap untuk pekerjaan rumah tangga, ternyata saya juga harus legowo ketika klien saya satu persatu tumbang. Mereka tak bisa lagi memberi job karena usaha mereka gulung tikar ditelan badai corona.

Klien saya berkurang, pendapatan pun otomatis mengikuti. Tapi saya masih cukup punya nafas, karena posisi saya dalam urusan keuangan sebatas supporting. Lain hal ketika saya menengok ke posisi adik laki-laki saya. Dia adalah kepala keluarga, yang ditangannya seorang, pemasukan untuk keluarganya berasal. Dia yang juga seorang freelancer mendapat pembelajaran yang luar biasa selama pandemi berlangsung.

Segala kendala dan tantangan yang saya dan adik saya alami, mungkin juga jadi tantangan yang sama dengan ribuan orang diluar sana. Tapi saya dan adik saya masih merasa cukup beruntung, almarhum bapak memberikan sebuah nilai berharga dalam keluarga kami. Kami, anak-anak bapak, boleh melakukan apapun, sejauh kami bisa bertanggung jawab akan itu dan tidak merusak nama baik keluarga. Value ini membuat kami terbiasa melihat berbagai peluang, berani mencoba hal baru, dengan tetap pintar mengalkulasi resiko. Adik saya pun akhirnya banting stir dari desainer interior ke pedagang bunga musiman.

Saya sendiri pada akhirnya memutuskan untuk fokus utama ke pengajaran anak-anak selama mereka PJJ. Selesai dengan urusan sekolah dan masak, saya akan ada di balik laptop hanya ketika ada pekerjaan. Namun lama kelamaan saya merasa saya bisa melakukan sesuatu lebih dari sekedar menunggu job, atau menunggu pandemi berakhir. Akhirnya saat ada waktu luang, saya kembali menekuni kegiatan menulis saya yang sudah lama vacum.

~ Terbangun Kembali dari Mimpi Masa Lalu ~

Mimpi itu datang lewat anak-anak. Berkurangnya jam sekolah anak-anak, membuat pihak sekolah menginisiasi beberapa program tambahan, salah satunya adalah literasi. Sekolah memberi tugas pada anak-anak untuk membaca buku minimal 3 halaman setiap hari. Demi menghemat pengeluaran pembelian buku fisik, saya menginstall aplikasi ipusnas. Anak-anak akan memilih e-book yang mereka suka, biasanya fabel.

Tiap malam kami berceloteh bersama Si Burung Pipit, merumbut bersama Dompi Domba, atau melompat bersama Si Cici kelinci dan Tuan Kanguru. Melompat dari satu dongeng ke dongeng berikutnya, hingga kemudian pikiran saya ikut melompat mundur. Jauh ke seperempat abad lalu, ketika saya masih duduk di bangku kelas 5 SD. Ketika itu ibu guru memberi tugas mengarang cerita, dan saya suka itu. Saya membuat cerita tentang kisah si meja yang kayunya berasal dari pohon di gunung. Saya agak lupa bagaimana detail ceritanya, yang pasti ide cerita itu terinspirasi dari pengalaman hiking ke bukit Mahameru. Mungkin itulah dongeng (ngarang) pertama saya.

Seminggu kemudian ibu guru mengumumkan bahwa ada karangan yang paling menarik untuk dibaca.  Beliau tidak menyebutkan namanya, tidak pula membacakan isi karangannya, dengan alasan beliau lupa itu punya siapa dan setumpuk tugas karangan kami tertinggal di rumahnya. Namun dengan keyakinan membuncah di dada, saya mengklaim pada diri saya sendiri bahwa itu pasti karangan saya. Hahaha…

Sampai sekarang saya tidak pernah tahu karangan siapa yang bu guru maksudkan. Tapi keyakinan ilegal saya itu cukup kuat untuk menuntun saya menghasilkan banyak tulisan. Saya selalu berangan-angan bisa punya foto saya berdiri disamping rak buku best seller di sebuah toko buku kenamaan, dengan buku hasil karya saya terpampang disana. Maka dari itu saya terus menulis, walau pembacanya hanya saya sendiri. Tulisan-tulisan itu sebagian masih tersimpan di buku diary, sebagian lagi hangus bersama komputer tabung yang rusak terbakar.

~ Menulis Itu (Tidak) Mudah ~

Saya selalu berpikir kalau menulis itu mudah, semudah memindahkan omongan di kepala ke atas kertas atau layar komputer. Kegiatan menulis ini kian menjadi saat saya kenal blog saat saya kuliah semester 3. Saya menghabiskan banyak waktu dan uang untuk menyewa 1 bilik warnet. Berjam-jam saya menulis perkara-perkara remeh seputar dunia kos dan kuliah.

Mungkin saya masih akan terus berpikir bahwa menulis itu mudah, seandainya saya tidak tergerak untuk mengikuti kelas-kelas menulis. Dari sekian banyak kelas menulis yang saya ikuti, saya cukup mempunyai kesan mendalam dengan kelas menulis Kaizen yang diampu oleh Dee Lestari. Gara-gara kelas itu, pikiran saya jadi jungkir balik. Menulis memang mudah, tapi menghasilkan tulisan yang bagus itu susah.

Semenjak itu saya membaca kembali tulisan-tulisan saya. Saya berhenti membaca pada beberapa paragrafnya, dan mengernyit miris. Tulisan-tulisan saya terlalu serampangan. Namun ada juga yang cukup lumayan dan saya simpan di arsip blog, anggaplah ini ide yang belum matang.

Menurut Dee, ide itu adalah mitra kita yang perlu kita beri suaka dan kita temani sampai tiba pada tujuannya, sebuah kata TAMAT. Sayangnya, kadang ide datang tanpa peduli waktu dan tempat. Kadang saat saya terbengong menunggu loading photoshop, lain kali ia datang saat saya mengiris bawang, dan konon katanya ide paling sering datang saat kita sedang berurusan dengan hajat di toilet. Pun ia datang hanya berupa potongan-potongan, secercah, seleret, tidak utuh. Tugas kitalah yang mengumpulkan potongan-potongan ide, menyusun, dan mengutuhkan.

~ Saatnya Bangun! ~

Sejauh “karir” saya menulis, saya baru menghasilkan 2 cerpen yang dibukukan dalam antologi. Itupun masih di komunitas penulis independen, jadi sebenarnya mau seperti apapun tulisannya ya akan tetap dibukukan.

cerpen elinspirasi

Rekam jejak digital yang lain yang masih ada sampai sekarang ada wordpress dan blogspot. Ketika saya menulis ini, saya gamang, antara memberikan link ke wordpress atau tidak. Tulisan dari tahun 2005 itu rada bikin saya ngelus dada bacanya. Konyol! Tapi mungkin tak akan pernah saya hapus. Kelak jika saya benar-benar bisa punya buku best seller, saya akan tau dari mana saya berproses. Sisa tulisan saya yang lain ada di captioncaption instagram.

Tahun ini saya berniat mengumpulkan tulisan-tulisan yang terserak, menjadikannya sebuah buku. Mungkin untuk awalan saya akan membuat kumpulan prosa pendek dengan ilustrasi saya sendiri. Dan di tahun berikutnya, insyaAllah, saya ingin membangunkan sekumpulan ide yang sedang tertidur di kotak tabungan ide. Itulah yang akan saya jadikan satu buku dengan cerita yang utuh dan tamat.

~ Ide Tulisanku Butuh Kendaraan ~

Sayalah kendaraan itu. Sayalah yang akan membawanya menuju kata tamat. Dalam perjalanannya, mungkin saya akan ditemani bercangkir-cangkir kopi. Sesekali berhenti untuk melamun panjang, dan mungkin juga saya akan menghabiskan malam-malam yang panjang untuk browsing dan riset.

Harusnya tak perlu banyak alasan jika niat sudah digaungkan. Tidak ada lagi alasan waktu sempit, atau laptop lemot. Toh menulis bisa kita atur waktunya dan bisa menggunakan media apa saja, daun lontar sekalipun. Tapi… jika ada kesempatan untuk menulis di Laptop ASUS Zenbook 14x OLED, kenapa harus menjatuhkan pilihan pada daun lontar?

Pada waktunya nanti, saat saya berjabat tangan dengan ide untuk menemani perjalanannya, akan saya gandeng pula ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) untuk jadi salah satu “bahan bakar” kendaraannya.

~ Kenapa ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) Cocok untuk Menemani Perjalanan ini? ~

Perjalanan membuat karya akan jadi perjalanan yang berat kawan. Maka, untuk mengimbanginya saya akan senang jika media pendukung saya adalah sesuatu yang ringan tapi kuat. Selain itu saya juga punya keinginan untuk bisa menulis di tempat-tempat yang berbeda, tidak melulu di pojokan kamar. Siapa tau ini akan memperkaya diksi dan plot dalam karya saya.

ASUS Laptop Impian

Inilah yang kemudian menjadi fokus utama saya ketika pertama kali melihat ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400). Laptop ultra-portable keluaran terbaru di kelas Zenbook classic ini, mempunyai desain body yang ringkas dan ringan. Laptop ini akan mudah dibawa untuk menulis dimanapun tempat yang saya kehendaki. Dengan body sekelas laptop 13 inch, dan berat hanya 1,4 kg, tapi nyatanya ini adalah laptop 14 inch. Berterimakasihlah pada teknologi NanoEdge Display yang memungkinkan laptop ini jadi punya bezel atau batas tepian layar yang sempit pada dua sisinya, yaitu hanya sekitar 3mm.

Meski ini tergolong laptop yang ringan, bukan berarti performanya ringkih. ASUS Zenbook 14X OLED sudah mengantongi sertifikasi uji lolos ketahanan berstandar US Military Grade (MIL-STD 180H). Pengujian itu meliputi daya tahannya tergadap guncangan, benturan, dan tes operasional di lingkungan yang extreem. Ini adalah laptop yang ringan dan tangguh

~ ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) ~

Selain keunggulan yang saya ceritakan sebelumnya, ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) ini masih punya banyak fitur unggulan. Mari kita berkenalan lebih jauh lagi.

ASUS ZenBook 14X OLED (UX5400)

Display

Berkat teknologi NanoEdge display, ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) mampu mengusung rasio layar 16:10 beresolusi 2.8K (2880×1800). Selain itu, laptop ini juga mengedepankan warna yang kaya dan akurat sesuai standar sertifikasi PANTONE Validated Display. Saya yang juga seorang desainer grafis, senang sekali mengetahui hal ini, apalagi layarnya pun sudah touchscreen yang makin mempermudah navigasinya.

Pada semua produk ASUS OLED telah mengantongi sertifikasi low blue-light dan anti-flicker dari TÜV Rheinland. Artinya, layar Zenbook 14X OLED (UX5400) tidak hanya lebih aman untuk kesehatan penggunanya, tetapi juga lebih nyaman saat digunakan. Berkat fitur tersebut, pengguna Zenbook 14X OLED (UX5400) dapat bekerja lebih lama tanpa membuat mata mudah lelah. Ini pun cukup aman bagi anak-anak

Performa

Untuk kalian para content creator atau desainer grafis seperti saya, biasanya kita membutuhkan tampilan grafis yang mumpuni, dan juga penyimpanan file yang besar-besar. Nah, Zenbook 14X OLED (UX5400) juga dibekali dengan penyimpanan berupa UltraFast PCle® 3.0 x4 SSD storage yang memiliki performa tinggi serta kapasitas ekstra lega yaitu hingga 1TB. Wah kalau begini, saya tidak akan khawatir kehabisan space untuk menyimpan gambar dan tulisan saya.

Soal dapur picu,  Laptop modern ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) sudah diperkuat oleh prosesor Intel® Core™ generasi ke-11 terbaru dan juga Intel® Iris® Xᵉ graphics. Ini membuat Zenbook 14X OLED memberikan pengalaman multitasking yang lancar dan powerful.

Selain itu, laptop ini juga memiliki  gigabit-class Intel WiFi 6 (802.11ax) , ini artinya kita tak perlu lagi berlama-lama menunggu loading website pada saat browsing. ASUS IceCool Plus technology juga akan membuat laptop tidak mudah panas.

Fitur

Mari kita menengok ScreenPad12 pada laptop keluaran ASUS yang sangat membedakan dengan laptop-laptop terdahulu bahkan laptop premium masa kini. ScreenPad ini merupakan layar sentuh tambahan, seperti smartphone kita, yang dapat meningkatkan produktifitas sehari-hari. Fitur Quick Key memungkinkan pengguna ASUS ZenBook 14X OLED (UX5400) untuk mengakses berbagai tombol shortcut tanpa harus menghafal kombinasi di keyboard.

ScreenPad ini juga diibaratkan sebagai fitur antar muka tambahan yang dapat menampilkan aplikasi apapun di layar utama. Hal ini biasanya kita perlukan saat kita presentasi pada orang di hadapan kita. Nah untuk melakukan ini, kita tak perlu repot-repot memutar laptop kita, melainkan hanya membukanya lebih lebar lagi. Berkat teknologi ErgoLift hinge, monitor ZenBook 14XOLED (UX5400) ini bisa dibuka hingga 180º. Bahkan pada posisi standar pun teknologi ini akan membuat kita nyaman saat mengetik.

ASUS ZenBook 14X OLED dengan ErgoLift Hinge

Konektivitas

Berkreativitas di zaman yang serba teknologi ini, membuat hampir semua orang memerlukan kemudahan konektivitas. Baik konektivitas pada jaringan internet, ataupun antar device. ASUS tentu memikirkan hal ini, terbukti dengan kelengkapan opsi konektivitas yang tertanam di ASUS ZenBoook 14X OLED (UX5400). Mulai dari port seperti HDMI 2.0, USB 3.2 Gen2 Type-A, hingga MicroSD dan 3.5mm combo audio jack, hadir untuk memudahkan pengguna beraktivitas tanpa harus bergantung pada dongle.

Port Asus ZenBook 14x OLED (UX5400)

Zenbook 14X OLED (UX5400) juga sudah lengkap dengan dua port USB Type-C Thunderbolt™ 4. Port  modern tersebut akan memudahkan pengguna untuk menghubungkan monitor tambahan dengan dukungan resolusi hingga 8K dengan kecepatan transfer data yang tinggi, yaitu hingga 40Gbps. Port tersebut juga telah mendukung fitur USB Power Delivery sehingga dapat digunakan untuk mengisi daya baterai melalui adapter charger maupun power bank.

Sedangkan untuk konektivitas nirkabel, Zenbook 14X OLED (UX5400) menanam WiFi 6 yang mampu memberikan kecepatan transfer data yang lebih tinggi dan stabil dibanding versi pendahulunya.

Audio

Untuk urusan audio, ASUS ZenBook 14X OLED mempercayakan pada stereo sound system yang telah memperoleh sertifikat dari pakar audio, Harman Kardon. Suara yang dihasilkan sangat jernih dan ini membuat pengalaman mendengarkan musikmu jadi lebih dari sekedar lirik dan nada semata.

Tidak hanya fokus memanjakan telinga kita saja, ASUS ZenBook 14X OLED (UX5400) ini juga memikirkan tentang suara yang lawan bicara kita dengar pada saat kita meeting online. Teknologi terkini dari AI Noice canceling sungguh membuat pengalaman meeting online menjadi jauh lebih baik. Teknologi ini benar-benar meredam suara-suara yang ada disekitar kita, agar lawan bicara kita dapat mendengar suara kita dengan lebih jelas.

ASUS ZenBook 14X OLED

Dengan segala kecanggihan yang dimiliki ASUS ZenBook 14X OLED (UX5400) ini, kemanapun perjalanan ini nantinya menuju, saya yakin akan selalu ada pengalaman luar biasa yang menertainya. Untuk saya dan untuk segala ide yang ada di kepala.
See you around, folks

Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) Writing Competition bersama bairuindra.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *