Kelas kaizen Writing

Kelas Kaizen Writing Dee Lestari, Mengantar Ide sampai Ke Kata TAMAT

Profesi saya ada banyak. Di bawah nama saya pada kartu nama yang saya buat sendiri, tertera predikat Mother, Graphic Designer, Blogger, Illustrator, Crafter, hingga Dream Catcher. Ketika saya menulis ini, saya baru menyadari, saya belum menyematkan kata “writer“, padahal jika saya runut kebelakang, itulah cita-cita saya dari jaman SD.

Bisa jadi selama ini saya lebih nyaman menggunakan predikat blogger karena tulisan saya masih gado-gado. Atau bisa juga karena saya tahu bahwa saya belum pernah membuat karya tulis yang utuh menjadi sebuah buku (kecuali tugas akhir kuliah – itu dihitung buku tidak ya?)

Walau belum pernah mendeklarasikan diri sebagai penulis, tapi saya tahu keinginan itu tetap terjaga dan terus tumbuh. Dulu saya banyak menulis, walau pembacanya ya saya sendiri, atau teman baik saya kalau dia sedang berbaik hati dan tidak ada hal yang lebih baik untuk dikerjakan. Saya pernah hampir menyelesaikan sebuah buku cerita, yang waktu itu saya dedikasikan buat ulang taun kekasih hati jaman kuliah. Sayangnya, ketika cerita sudah 3/4 perjalanan, kami putus. Sialnya lagi, tak lama setelah saya lulus, naskah tersebut hangus bersama komputer tabung yang terbakar. Hahahha…  Semenjak itu saya tidak mau lagi menulis cerita khusus untuk seseorang.

Akhirnya saya melanjutan “karir” menulis di blog, dari jaman blog  friendster dan multiply. Sampai kemudian kedua platform itu tutup dan berlanjut ke wordpress dan blogspot gratisan. Isi tulisanya remeh dan receh, tapi saya menemukan ada satu draft cerbung yang belum selesai, baru sampai bab 6. Cerbung tersebut kemudian saya arsipkan, dan saat ini ia sedang menunggu dengan sabar.

Upgrade Diri

Awalnya saya pikir menulis itu mudah saja, tinggal ngayal, kemudian tulis. Tapi nyatanya keyakinan itu luntur setelah saya mengikuti workshop-workshop menulis. Kebanyakan adalah workshop menulis cerita anak.  Iya sih menulis itu memang gampang, tapi menulis cerita yang bagus itu susah. Cerita anak yang saya pikir “cuma gitu doang” saja ternyata banyak teorinya, nyatanya sampai detik ini saya belum pernah lolos lomba apapun di kategori cerita anak.

Ketika tahu Dee Lestari membuka kelas menulis, saya adalah 1 dari sekian banyak orang yang excited. Sebagai penggemar dan pengoleksi buku beliau sejak Supernova (Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh) KPBJ, saya tahu bahwa kelas ini akan sangat insightful. Sedikit intermezzo soal Supernova KPBJ, waktu itu saya membacanya pertama kali di kelas 2 SMA, pinjam dari perpustakaan sekolah. Sebagai anak SMA yang paling banter baca majalah, baca KPBJ bikin kening saya berkerut-kerut. Masa pinjam buku di perpustakaan cuma 3 hari, dan novel setebal 300 halaman dengan banyak istilah fisika yang njlimet, belum kelar saya baca. Sebelum saya kembalikan bukunya, saya mampir ke tukang fotokopi dan saya copy sisa halaman yang belum saya baca. Sembari nunggu kang potokopi bekerja, saya mikir, jangan-jangan istilah itu nanti muncul di soal ujian nasional.

Walau kemudian saya kurang bisa menikmati seri KPBJ (mungkin bahsanya terlalu berat untuk anak ingusan macam saya kala itu), tapi saya terkesan dengan cara Dee bercerita. Semenjak itu saya terus mengikuti cerita Dee, dan saat sudah bisa punya uang dari kerja paruh waktu saat kuliah, saya menyisihkan sebagian uang untuk membeli buku-buku Dee. Untungnya dari seri Supernova Akar, ceritanya sudah lebih ringan dan saya makin kesengsem. Pun dengan novel lainnya seperti Madre, Filosofi Kopi, sampai yang terakhir kemarin ada Rapijali.

Balik lagi ke kelas Kaizen -waktu itu awalnya namanya workshop-, batch 1 diadakan di 2020, bertepatan dengan pandemi mulai melanda negeri. Kegirangan saya akan workshop ini tak disambut baik oleh dompet. Apalagi waktu itu saya baru saja kehilangan salah satu klien andalan saya karena efek pandemi. Akhirnya batch 1 lewat, begitupun dengan batch 2,3,4, dan 5, lewat juga dengan alasannya masing-masing. Baru kemudian saya berjodoh dengan kelas ini di batch 6 pada Februari lalu.

Kelas Kaizen writing

Kelas Kaizen Writing

Penggemar Dee Lestari pasti tahu bahwa beliau punya banyak panggilan sayang, dari Ibu Suri, MakSur, hingga Bu RT. Khusus yang terakhir ini sepertinya pemberian dari para alumnus kelas kaizen. Kata Batch pun kemudian lebih familiar dengan sebutan RT, jadi saya adalah warga RT 6.

Penamaan Kaizen sendiri diambil dari bahasa Jepang dengan filosofi bahwa semua yang mengikuti kelas ini akan bisa terus melakukan perbaikan yang berkesinambungan. Nayyyysss..

Kelas ini dibagi menjadi 3 sesi, 2 jam/sesi, menjadikan kaizen kelas yang padat bergizi. Enam jam untuk merangkum ilmu dari pengalaman menulis Dee selama bertahun-tahun. Dari mulai menggali ide, proses menulis, riset, hingga menuju kata TAMAT. Enam jam yang sungguh sanggup membuat otak rada ngebul di setiap akhir sesi. Tapi bukan Dee namanya kalau tidak ada kejutan-kejutannya. Coba liat apa yang ibu RT kita lakukan di akhir kelas.

Keseruan Dee Lestari di Kelas kaizen Keseruan Dee Lestari di Kelas Kaizen

Saya sangat terkesan dengan kelas ini. Bagi saya, ini salah satu inventasi yang paling menarik dan saya harapkan bisa membawa perubahan signifikan pada kegiatan menulis saya. Setelah ikut kelas ini, dan saya membaca tulisan-tulisan saya kembali, duh miris sekali rasanya. Untuuung selama saya belum kepedean menyebut diri sebagai seorang penulis.

Semut Merah Kaizen

Kelas selesai tapi tidak benar-benar berakhir. Ada group alumnus yang konon ceritanya ini adalah inisiasi dari teman-teman RT 1, namanya Semut Merah Kaizen (SMK). Komunitas yang diketuai oleh Didiet Maulana (iya perancang busana yang punya Ikat Indonesia) ini sangat aktif dan punya loyalitas yang tinggi. Di dalamnya terdapat beberapa lini yang disebut “dusun”. Sejauh ini ada dusun fiksi, dusun non-fiksi, dusun Instagram (desain), dusun puisi, dusun siniar, dusun merchandise, dan yang baru lahir dusun twitter. Semua alumnus bebas untuk masuk ke dusun manapun, dan saya sendiri memilih untuk masuk ke dusun fiksi, puisi, dan merch. Selain dusun, ada juga beberapa klab seperti klab nulis, klab baca, dan klab nonton.

Dusun-dusun itu sangat sibuk. Mereka punya punya target setor karya, tujuannya ya untuk menjaga semangat menulis agar tidak kendor setelah kelas kaizen selesai. Pada tahun keduanya ini komunitas SMK sudah melahirkan 2 buku antologi. “Cerita Saat Jeda”, yang berisi kumpulan kisah masa pandemi, dan “Kita Hanya Sepenggal Kata Rindu”, kumpulan puisi yang baru saja launching minggu lalu. Karena saya masih warga baru, saya sudah cukup senang bisa ikut berkontribusi membuat beberapa desain merchandise untuk launching antologi puisi.

Instagram Semut Merah Kaizen

Meski tak terlibat langsung dalam komunitas SMK, Dee Lestari mengakui bahwa komunitas ini sangat produktif dan Bu RT memberikan apresiasi pada semua alumnus yang terus semangat berkarya. Lalu, nasib saya gimana? Tulisan saya masih butuh banyak sekali perbaikan. Rasanya masih jauh sekali menuju kata ‘tamat’. Untuk kali ini, mungkin cukuplah saya merasa beruntung jika Ibu Dewi ‘Dee’ Lestari menemukan blog ini dan membaca sampai di baris ini. Karena, memikat pembaca untuk terus membaca sampai akhir cerita itu, SUSAH!

Jadi mari kita garuk-garuk kepala bersama, silakan memperpanjang waktu melamun, dan jangan berhenti menulis ya.

 

See you around, folks!

 

6 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *