ASUS-ExpertBook-B5-feature

ASUS ExpertBook B5, Menghubungkan Bisnis Penerbitan Antar Pulau

Bulan depan akan menjadi ulang tahun kedua berdirinya usaha penerbitan Agree Media Publishing. Sebuah usaha penerbitan yang kami rintis berempat, saya dan ketiga teman saya di Lampung. Saya sendiri sampai saat ini tinggal di Bekasi, Jawa Barat. Percayakah kalian, bahwa sejak usaha ini resmi mendapat akta, hingga detik saya menulis ini, saya dan mereka tidak pernah bertemu muka secara langsung. Kami menjalani semua meeting dan internal review secara virtual.

Kamtor Agree Media

Sedikit saya flashback ke tahun 2006, ketika saya dan teman baik saya, Oriza, menghabisakan malam-malam di kos-kosan dengan obrolan ngelantur dan menghayal. Salah satu khayalan kami adalah, kami ingin membuat bisnis bersama, entah apapun itu. Selepas kami berdua lulus kuliah, Oriza pulang ke Sumatra, melanjutkan kuliah, dan menjadi dosen. Sementara saya menjadi tim kreatif di agensi periklanan di Jakarta. Hanya sesekali kami bertegur sapa di kolom komentar facebook. Dan impian kami pun terkubur bersama kesibukan harian kami.

Hingga kemudian, sekitar tahun 2013, Oriza menghubungi saya via email. Bercerita bahwa saat itu dia bergabung dengan temannya untuk membangun usaha penerbitan. Karena dia tau saya mempunyai basic desain grafis, dia meminta saya untuk membuatkannya 1 desain cover. Judulnya ‘Pesan dari Negeri Layang-Layang’. Saya pun mengiyakan, dan semenjak itu komunikasi kami via e-mail terus berlangsung walau kadang hilang timbul. Dari yang awalnya saya membantu desain cover, lama-lama dia meminta saya untuk melayout buku, dan kemudian belajar editing buku juga.

Berhenti dan Memulai

Sayangnya, pada tahun 2019 usaha penerbitan tersebut harus berhenti sementara karena pemiliknya melanjutkan kuliah di UK. Oriza yang sudah kadung cinta dan menggeluti dunia penerbitan kemudian berinisiatif untuk membuat penerbitannya sendiri bersama suami dan adiknya, dan saya diajaknya serta. Tepat pada bulan April 2020, saat pandemi sedang mengincar Indonesia, Agree Media Publishing resmi dimulai.

Walaupun sudah cukup lama kami berkecimpung dengan dunia penerbitan, ternyata masih banyak hal yang harus kami atur ulang ketika merintis usaha sendiri. Saya masih ingat saat awal-awal usaha ini berdiri, banyak drama yang menghiasi. Birokrasi legalitas yang ribet, penulis yang banyak maunya, delivery order yang lambat, cetakan yang salah, dan lain-lain. Biasanya kendala ini muncul karena miscommunication saja.

Untungnya hampir semua kendala tersebut sudah banyak yang teratasi berkat kemajuan teknologi dan komunikasi. Keberadaan aplikasi video conference seperti Zoom dan Google Meet mulai banyak digunakan oleh para pelaku usaha. Menurut sebuah data, selama pandemi tercatat ada kenaikan 20 hingga 23 persen pada kedua aplikasi tersebut. Mungkin saya dan Oriza menjadi salah satu penyumbang kenaikan angka tersebut karena posisi kami yang terpisah pulau. Karena saya juga seorang ibu rumah tangga, terkadang saya meeting dengan backsound anak-anak yang asik bermain. Disisi lain Oriza pun menyempatkan waktu meeting disela waktu mengajarnya di kampus.

Menjalankan bisnis, sekecil apapun lingkupnya, tetap membutuhkan profesionalisme. Dengan tim inti yang hanya 4 orang, kami dituntut untuk bisa multitasking juga, saling back up. Tuntunya hal ini makin memberikan tantangan tersendiri bagi diri masing-masing. Saya misalnya, yang sudah punya jobdesk di bagian ‘dapur’ kreatif, tetap saja ada kalanya harus bisa menjalani peran sebagai AE yang bernegosiasi dengan calon penulis atau klien yang kebetulan ada di area Bekasi dan Jakarta. Memang sih terkadang virtual meeting bisa menjadi solusi, namun tetap ada saja klien yang ingin bertemu langsung jika memungkinkan.

Dampak Pandemi Pada Dunia Literasi

Menjatuhkan pilihan pada usaha penerbitan bukanlah kebetulan semata. Latar belakang keluarga Oriza yang berdarah Minang, kental dengan dunia pendidikan dan penerbitan. Selain itu ada faktor sentimental, yaitu kekhawatiran kami terhadap literasi di Indonesia. Minat baca Indonesia masih masuk pada urutan 10 besar terakhir dibanding dengan 70 negara lainnya di dunia. Maka dari itu, besar harapan kami bahwa Agree Media bisa memberikan subangsih buku bacaan yang bagus sehingga dapat berkontribusi dalam kampanye literasi.

Wabah Covid-19 membawa dampak hampir pada setiap lini kehidupan. Pun dengan bisnis penerbitan, tercatat 50% penerbit mengalami penurunan produktifitas yang signifikan, dan sebanyak 58,2% penerbit mengalami penurunan penjualan melebihi 50% dari biasanya. Namun pada situasi yang sama, ternyata ada juga perusahaan yang masih bisa survive bahkan justru mengalami pengingkatan penjualan di kanal online.

Beberapa hari yang lalu saya membuka email Agree Media, dan mendapati surel dari IKAPI yang menginfokan bahwa terjadi lonjakan permintaan ISBN selama masa pandemi. Dalam 2 tahun terakhir berjumlah 144.793 (2020), dan 159.330 (2021). Bahkan pada tahun ini, hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan, sudah tercatat lebih dari 50 ribu ISBN. Jika kita menilik pada riset sebelumnya tentang minat baca, tentu ini menjadi data yang timpang. Banyak buku lahir, namun pembacanya sedikit.

Fakta ini ada karena banyak orang yang menerbitkan buku hanya untuk tujuan administrasi saja, atau ada pula yang sudah mengajukan permohonan ISBN namun gagal terbit dengan alasan beragam. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa, bisa jadi bukan pembacanya yang sedikit melainkan memang buku-buku tersebut terbit namun tidak disebarluaskan. Kemungkinan lain adalah banyak orang yang sudah beralih ke bacaan digital, baik e-book maupun audio-book, yang mana data ini bisa saja belum tercatat utuh.

Berkembang ke Bacaan Digital

Saya sendiri sebenarnya penikmat buku fisik, bau buku masih menjadi aroma yang menyenangkan untuk dihirup. Saya juga yakin bahwa buku fisik masih memiliki banyak peminat. Namun saya tidak bisa menutup mata pada perkembangan literasi digital. Mulai banyak bermunculan platform-platform penyedia bacaan digital. Ada platform yang hanya bisa membaca e-book saja seperti aplikasi iPusnas, dan ada pula yang bisa membaca dan menulis cerita seperti wattpad, Storial, karya karsa, dan lain sebagainya.

Salah satu platform bacaan digital, Storial, mengungkapkan bahwa pertumbuhan penggunanya naik tiga kali lipat di kuartal pertama 2020.  Tercatat durasi pembaca juga lebih lama selama masa karantina berlangsung, dimana rata-rata pembaca menghabiskan 60 bab/pekan. Hal ini kemudian berimbas pada penulis juga. Mereka makin semangat berkarya di platform digital karena mereka bisa memonetisasi tulisannya dan mendapat royalty yang transparan dan cukup menjanjikan.

Keberadaan platform digital ini agaknya menjadi competitor tak langsung bagi penerbitan buku cetak seperti Agree Media. Maka dari itu, harus ada pembenahan agar penerbitan konvensional bisa setidaknya mengimbangi laju dunia literasi digital.

Salah satu hal yang ingin kami coba lakukan di tahun ketiga Agree Media adalah membuat audio book untuk buku fiksi. Kami menyasar ke fiksi dengan pertimbangan bahwa ini adalah jenis bacaan yang masih paling banyak peminatnya. Alasan lain karena tulisan fiksi dapat dinikmati dengan lebih santai ketimbang buku non-fiksi yang biasanya membutuhkan konsentrasi lebih untuk mencerna isinya.

Kendati niat sudah tersusun baik, namun tetap saja ada tantangan yang harus kita hadapi. Kemarin pada saat saya mencoba merekam suara untuk percobaan membuat audio-book, ternyata hasilnya kurang memuaskan. Maklumlah, usia 1o tahun bagi laptop, sepertinya sudah cukup ngos-ngosan untuk diajak mengejar target produksi.

Suara hasil rekaman masih terdengar agak pecah, dan ketika saya mencoba ‘menyelamatkan’ suara saya pada saat editing, ternyata laptop saya terengah-engah merender. Untuk output 15 menit, membutuhkan waktu hampir 1 jam untuk merender. Hasil akhirnya pun ternyata berbeda ketika saya mendengarkan di device yang lain. Jelas ini akan menghabiskan banyak waktu.

Jika saya tetap ingin mewujudkan rencana ini, maka saya membutuhkan piranti kerja yang lebih mumpuni. Laptop yang punya tenaga bagus untuk produktivitas tim kreatif, konektifitas yang lancar, dan yang punya layar serta suara jernih untuk kepentingan meeting online.

ASUS ExpertBook B5 Mengatasi Kendala dan Tantangan

Beraneka tantangan yang harus kami hadapi secara profesional, tentu membuat saya ikut memikirkan cara yang tepat dan efisien. Disaat itulah saya menemukan solusi bahwa ‘hanya’ dari sebuah laptop yang bagus, akan banyak kendala kami yang akan terpecahkan.

Laptop yang saya maksud adalah ASUS ExpertBook B5. Sebuah laptop bisnis ultra-portable yang dirancang untuk para profesional. Mari kita lihat bagaimana ASUS ExpertBook B5 dapat memberikan peranan besar dalam menunjang bisnis kita.

ASUS Expertbook B5

• Lebih Produktif dengan ASUS ExpertBook B5

Bekerja di dapur kreatif tentu sangat memikirkan tampilan output akhir dari sebuah karya. ASUS ExpertBook B5 yang dibekali dengan layar OLED mampu memberikan visual warna yang kaya dan akurat. Layar ASUS OLED ini memiliki color gamut 100% DCI-P3 dan telah mengantongi sertifikasi PANTONE Validated Display. Dengan teknologi secanggih ini, saya tak perlu khawatir dengan keakuratan warna pada desain-desain cover yang saya buat.

ASUS OLED memiliki fitur Eye Care yang dapat mengurangi secara drastis spektrum cahaya biru yang berbahaya untuk mata, tanpa mengorbankan kualitas visual. Teknologi OLED ini juga sudah mengantongi sertifikasi dari TÜV Rheinland untuk low-blue light dan anti-flicker, yang membuat mata tidak merusak kesejahatan mata. Jadi tidak perlu khawatir lagi jika kita harus terpaksa berlama-lama di depan laptop demi mengejar deadline.

Memiliki body yang ringkas tidak membuat ExpertBook B5 mengurangi kelengkapannya. ASUS mempunyai fitur eksklusif bernama ASUS NumberPad 2.0. Fitur ini mampu mengubah touchpad menjadi numpad dengan sangat mudah melalui satu sentuhan saja.

• ASUS ExpertBook B5, cocok untuk mobilitas tanpa batas

Di dunia bisnis yang dinamis dan serba cepat, ASUS ExpertBook menawarkan spesifikasi yang mendukung hal itu. Dengan berat hanya 1kg dan tebal hanya sekitar 16.9mm, ASUS ExpertBook B5 tentu akan memudahkan untuk mobilisasi. Bagian belakang layar serta bawah bodi laptop ExpertBook B5 menggunakan bahan magnesium-aluminium alloy. Inilah yang membuatnya ringan, tanpa menginggalkan kesan premium.

ASUS ExpertBook B5 ini hadir dalam dua varian form-factor, yaitu clamshell (B5302CEA) dengan layar yang dapat dibuka hingga 180⁰ dan convertible dengan layar yang dapat diputar 360⁰ (B5302FEA).

Asus-ExpertBook-B3-convertible

Bukan hanya tampilan saja yang menjadi komponen utama, namun juga ketangguhannya. Para profesional bisnis dengan mobilitas yang tinggi tentu juga membutuhkan laptop yang tangguh, tahan benturan dan goncangan, serta dapat dipakai baik dalam kondisi sehari-hari ataupun di ligkungan yang ekstrem. ASUS ExpertBook B5 menyediakan itu semua, bahkan ketangguhannya sudah diakui melalui sertifikasi lolos pengujian ekstrem berstandar militer AS (MIL-STD 810H).

Selain ketangguhan pada body, laptop ini juga dilengkapi dengan teknologi Panel Self Refresh yang membuat baterai bisa bertahan hingga 14 jam. ExpertBook B5 tidak akan membuat kita kerepotan mencari tempat meeting yang harus ada stekernya. Teknologi pengisian cepat yang dimilikinya,  memungkinkan kita mengisi ulang baterai hingga kapasitas 60% hanya dalam 39 menit. Seri laptop ExpertBook B5 juga sangat fleksibel. Pengisian dayanya dilakukan melalui port USB Type-C Thunderbolt 4 yang mendukung teknologi USB power delivery menggunakan adapter yang sangat ringkas.

• Performa Komputasi yang Mumpuni

Teknologi komputerisasi bagai bahan bakar utama bagi para pelaku bisnis. Namun jika hal ini tidak dibarengi dengan performa yang baik, tentu tidak akan bisa menunjang produktifitas dengan maksimal. Untungnya laptop bisnis ASUS ExpertBook B5 sudah diperkuat oleh prosesor Intel® Core™ generasi ke-11 terbaru dan juga Intel® Iris® Xᵉ graphics. ASUS ExpertBook B5 ini juga dibekali dengan memori DDR4 3200Mhz berkapasitas hingga 48GB. Hal ini dibarengi dengan kapasitas 2TB PCIe SSD yang dapat dikonfigurasi secara RAID. RAID merupakan teknologi penyimpanan yang memungkinkan beberapa drive berperilaku tunggal untuk menunjang kebutuhan multitasking yang baik.

AASUS ExpertBook B3 Power

Wah dengan dapur picu sekeren ini, tak akan ada lagi cerita render berjam-jam atau laptop hang ditengah jalan.

Guna menambahkan fitur keamanan, ASUS ExpertBook B5 menyediakan sensor sidik jari (fingerprint). Sensor ini sudah terintegrasi dengan sistem keamanan Windows Hello dan pelindung webcam fisik, ditambah TPM 2.0 untuk memastikan tidak ada pihak luar yang berada di belakang layar untuk melihat kehidupan pribadi kita. Tidak hanya aman, tetapi juga mudah untuk diakses tanpa harus mengetikkan password.

Proteksi juga melingkupi bagian webcam. Dengan webcam privacy shield pada ExpertBook B5, memudahkan untuk menutup dan membuka pelindung webcam dengan sekali sentuhan geser.

• Konektivitas yang Lancar

Mari menilik bagian sisi body, tempat port konektivitas yang melengkapi ExpertBook B5 ini. Walau bodynya tipis, ExpertBook B5 telah dilengkapi dengan USB Type-A, HDMI, 3.5mm combo audio port, dan gigabit ethernet melalui Micro HDMI. Dua port USB Type-C Thunderbolt 4 juga tersedia di laptop ini. Selain menawarkan kecepatan transfer data hingga 40Gbps, port Thunderbolt 4 di seri laptop ExpertBook B5 juga dapat digunakan untuk pengisian daya serta port display output yang mendukung resolusi hingga 8K.

ASUS ExpertBook B5 Port

Seri laptop ExpertBook B5 juga telah mengadopsi protokol WiFi 6 generasi terbaru yang memungkinkan transfer data dapat dilakukan lebih cepat dan stabil. Tentu ini akan sangat membuat pengalaman streaming dan virtual meeting menjadi lebih lancar.

Berbicara soal virtual meeting, saya dan Oriza sering sekali meeting dadakan. Ketika saya ada di rumah, terkadang suara ketiga anak saya akan ikut menambah ambience meeting, hal ini kadang membuat info yang didengar jadi terganggu. Namun dengan fitur two-way AI noise-cancelling yang dimiliki seri laptop ExpertBook B5 ini, mampu meredam suara-suara disekeliling kita saat melakukan video conference.

Dari beberapa fitur yang saya tuliskan ini saja sudah tampak terlihat betapa satu laptop ASUS ExpertBook B5 dapat dengan mudah mengatasi berbagai kenadala yang saya hadapi selama ini. Dibandrol dengan harga mulai Rp. 19.115.000,- agaknya tak berlebihan jika saya mengatakan bahwa ASUS ExpertBook B5 adalah laptop yang memang dipersiapkan untuk menujang segala kebutuhan bisnis profesional saya dan Anda.

 

See you around, Folks!

 

 


Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS ExpertBook B5 Blog Competition yang diadakan oleh ASUS bersama techijau.com

Sumber:

RISET

https://portalbandungtimur.pikiran-rakyat.com/pendidikan/pr-941922838/miris-minat-baca-di-indonesia-menurut-unesco-hanya-0001-persen

https://www.antaranews.com/berita/1533212/menulis-membaca-di-platform-digital-makin-digemari-berkat-karantina

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200323074557-213-485895/pengguna-aplikasi-video-conference-imbas-wfh-di-ri-meningkat

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *