Daily Life,  Story

Antara PJJ dan PTM, Mana yang Dinilai Cocok dengan Sistem Pendidikan di Indonesia?

Bosen!

Males!

Strees!

Rasanya kata-kata itu yang kerap keluar diantara curhatan orang tua ketika membahas soal situasi belajar anak-anaknya. Saya pun termasuk diantaranya. Anak pertama saya yang mengalami Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di kelas 3 dan 4 kemarin pun mengeluhkan hal yang sama. Mungkin hal ini juga yang mengispirasi pihak perusahaan Faber-Castell untuk mengadakan webinar bertajuk “Refleksi Pendidikan Indonesia diantara PJJ dan PTM”.

Tentu ini tidak serta merta terjadi ya. Awal diberitakan bahwa sekolah “diliburkan” tentu saja anak anak ini senang karena tak perlu repot-repot bermacet-macetan berangkat ke sekolah. Lalu situasi ini berganti rasa penasaran ketika sekolah mengabarkan akan menggunakan media meeting digital untuk belajarnya. Anak-anak yang berusia 10 tahunan ini mengeksplore banyak hal yang baru saja mereka pelajari. Ada yang baru belajar mengoperasikan perangkat, ada yang baru belajar tentang dunia internet yang serba luas, ada yang baru belajar tentang bagaimana sistem belajar online.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan berjalan dan mereka masih cukup menikmatinya sambil sesekali bertanya kapan sekolah di mulai lagi. Mereka kangen teman-temannya. Tapi ternyata pandemi membawa mereka tidak hanya di 3 bulan belajar online, namun sudah setahun lebih ketika saya menulis ini.

Anak-anak sudah mulai berganti rupa, dari excited, menjadi bosan, malas, jenuh, dan stress. Belajar tidak lagi menarik. Ini mungkin tidak semua anak mengalaminya, saya menuliskan ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi dengan ketiga anak-anak saya, dan juga penggabungan dari materi yang dibahas pada Webinar dengan Faber-Castell.

Webinar Faber Castell
Materi yang dipaparkan oleh pembicara (ibu Saufi Sauniawati) pada saat Webinar pendidikan dengan Faber-Castell

Kendala yang dialami orang tua, anak-anak dan guru selama PJJ

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Saya merasa ini adalah salah satu faktor yang membuat mereka cepat bosan ketika harus belajar online. Ketika belajar tatap muka di sekolah, ada jeda waktu yang mereka gunakan untuk bermain bersama teman-temannya. Ada cerita yang mereka bawa saat pulang dari sekolah. Sementara ketika PJJ, acara bermain bersama teman ini otomatis hilang. Waktu istirahat berganti dengan nonton TV, nonton Youtube, atau malah main game di perangkat yang digunakan juga untuk belajar. Ini baru satu dari lingkup saya. Yuk kita liat ke cakupan yang lebih luas.

Masalah Jaringan internet. Saya lho tinggal di daerah perkotaan saja kadang ada masa-masa sinyal tidak bersahabat, tidak bisa masuk zoom meeting, tidak bisa mendengar perkataan guru dengan jelas, kadang ngefreeze layarnya. Nah bagaimana dengan teman-teman yang ada di daerah? Saya punya 2 teman guru SD di daerah. Kendala yang jelas mereka alami adalah tidak semua orang tua mampu memberikan fasilitas smart phone plus dengan kuotanya tiap bulan. Tidak semua orang tua bisa mengajari anaknya yang masih SD untuk mengoperasikan perangkat. Kalau yang usia SMP atau SMA biasanya sudah bisa cari tahu sendiri ya. Dan satu lagi, banyak orang tua di desa yang bekerja di sawah dan tidak semua bisa dengan gambalang memilih antara menghabiskan waktunya untuk mendampingi anaknya belajar atau pergi ke kebun. Tuntutan ekonomi dan tanggung jawab akhirnya membuat banyak diantaranya untuk lebih memilih pergi mengurus sawah atau kebun. Lalu anak-anaknya bagaimana? Ya terpaksa tidak bisa belajar. Peran orang tua sebagai pembimbing, fasilitator, pengawas, dan motivator tidak bisa berjalan dengan semestinya.

Sekarang kita bergerak lagi ke daerah suburban, dimana biasanya fasilitas sudah cukup mendukung, orang tua sudah bisa berbagi peran, dan anak-anak sudah melek teknologi. Sekarang tinggal membangun kesadaran diri siswa untuk mau belajar dan bertanggung jawab dengan kewajibannya. Mereka perlu belajar untuk menghargai gurunya seperti misalnya tidak mematikan video dan bisa duduk dengan tertib selama pembelajaran berlangsung. Kliatan mudah tapi percayalah ini tantangan tersendiri buat anak SD. Juga soal tugas-tugas, ketika pembelajaran normal anak saya hampir bisa dikatakan tidak pernah punya PR. Semua tugas dan latihan dikerjakan di sekolah. Nah karena belajar online, guru membatasi penggunaan waktu di depan layar sehingga sebagian pembelajaran dilakukan lewat pemberian tugas, latihan, semacam PR lah kalau sekolah normal. Nah anak-anak ini belum semua punya tanggung jawab untuk mengerjakan tugasnya secara mandiri atau tanpa diingatkan terlebih dahulu.

Apakah hanya orang tua dan siswa saja yang punya tantangan? Tentu saja tidak. Guru juga dituntut untuk lebih kreatif dari sebelumnya. Salah satu contoh di anak saya yang masih kelas 1 SD, pada suatu ketika gurunya membuat permainan untuk menemukan benda-benda di rumah sesuai dengan ciri2 yang disebutkan oleh sang guru. Ada anak-anak yang bergerak mencari, ada yang teriak “buuuun,kita punya benda silinder nggaaaa? tolong ambilin bun.” Mager, alias males gerak. Permainan-permaianan yang mengasah kerjasama pun juga susah dilakukan karena anak-anak belajar dari rumahnya masing-masing. Kemudian tantangan juga muncul ketika masa-masa ulangan atau ujian. Peran guru yang biasanya menjadi pengawas agar anak-anaknya jujur tidak mencontek, dimasa belajar online tentu tidak sepenuhnya bisa dilakukan. Kewajiban ini akhirnya digugurkan dengan permintaan secara tulus ke siswanya untuk punya kesadaran diri untuk selalu bisa jujur walau tanpa pengawasan guru.

Lalu, apa iya sekolah jarak jauh begini hanya menyisakan kendala dan tantangan saja? Yuk kita liat dari sisi sebaliknya.

Sisi Positif Pembelajaran Jarak Jauh

Saya sebagai orang tua yang punya tugas menyiapkan segala sesuatu untuk anak-anak, merasa bersyukur karena selama PJJ tidak ada tugas mengantar jemput anak-anak. Tidak terburu-buru saat menyiapkan sarapan di pagi hari karena jam pelajaran dimulai 7:30 (hari normal jam 6:30 sudah harus sampai di sekolah). Saya lebih bisa memahami sampai dimana kemampuan anak-anak saya. Kebetulan (dan kecapean) anak-anak saya lebih suka belajar jika saya yang mengajari. Saya punya anak 3 dengan tipe belajar yang berbeda. Si kakak adalah anak yang imajinatif, dia mudah paham jika materi belajar berupa story. Jadi saya memerlukan papan tulis, bercerita sambil mengambar. Si adek cowo adalah anak yang visual, dia memahi sesuatu lewat pola, dia enjoy di matematika tapi ternyata kesulitan memahami materi PKN yang dianggapnya terlalu abstrak. Si ade cewe anak sosial yang suka menggambar, dia memahami pelajaran lewat permisalan dengan kehidupan sehari-hari, lagu-lagu, dan sesuatu yang berwarna-warni.

Keuntungan lain adalah saat tugas-tugas life skill. Anak-anak biasanya diminta untuk ikut mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci piringnya sendiri, menjemur pakaian, menyapu, menyiram tanaman dll. Anak-anak diberi awareness bahwa selain belajar mereka juga punya tanggung jawab pada kebersihan dan kerapihan lingkungan sekitar.

Dari sisi anak-anak, mereka lebih kreatif. Hahaha… seriously, mereka memang jadi kreatif. Contoh ya, ketika bosan melanda, mereka akan belajar sambil main game dengan menggunakan fitur splitscreen. Ketika orang tua datang, mereka tinggal swipe and all gone. Tidak untuk di contoh tapi setidaknya saya mnggolongkan ini dalam pandangan kreatifitas. Contoh lain, ketika anak pertama saya diberi tugas literasi. Membaca buku sehari 3 lembar, lalu di akhir bulan dia harus merangkum ceritanya. Alih-alih mengetik banyak, dia menggunakan fitur voice text yang biasanya ada di smart phone atau google doc. Jadi dia cukup menghiglight beberapa kata-kata yang dia anggap inti cerita, lalu di akhir bulan dia tinggal membaca ulang bagian yang dia tandai, secara otomatis perangkat akan menulis kata-kata yang didengar dari suara anak saya.

Hingga pada suatu hari gurunya pengen anak-anak tidak lagi mengumpulkan tugas dengan ketikan, tapi dengan tulis tangan. Tujuannya untuk melatih motorik anak. Anak saya tidak suka menulis. Dia sebisa mungkin menghindari kegiatan ini. Awal-awal adalah masa tersulit, dia hanya mau menulis 1 paragraf saja yang mungkin hanya terdiri dari 3 baris. Wah ngga bisa ini kalo begini. Saya mencari cara agar acara tulis menulis tidak jadi momok buat anak saya.

Saya kemudian teringat bahwa meski anak saya tidak suka menulis tapi dia suka menggambar. Saya punya Tab dan saya berikan dia stylus yang ada di dalam paket belajar Faber Castell. Saya bilang ke dia, dia boleh mengabungkan antara tulisannya dengan gambar, and it’s work. Pengalaman menulis versi digital sepertinya cukup menarik minatnya.

Peran Faber-Castell di dunia pendidikan.

Tidak ada keraguan bagi saya atas perusahaan yang telah ada sejak abad 17-an ini. Selain mempunyai produk yang sangat beragam untuk menunjang dunia pendidikan atau pun kalangan professional, Faber-Castell juga perusahaan yang concern pada isu keberlanjutannya. Hal ini terbukti dari adanya hutan di wilayah Brazil yang dimiliki dan dikelola oleh perusahaan Faber-Castell. Jadi pohon-pohon di hutan ini selain untuk bahan baku pensil, juga membantu penyerapan zat karbon dan menetralisir emisi udara.

Dari jaman saya sekolah, ketika ujian berbasis komputer menyaratkan penggunaan pensil agar dapat terbaca datanya, sekolah merekomendasikan penggunaan pensil 2B milik Faber-Castell. Hinga kini, sebagai seorang ilustrator, saya mengagumi produk pensil warnanya Faber-Castell yang kaya warna.

Karena produknya yang buanyak sekali, Faber-Castell memberikan kemudahan dengan menyediakan paket-paket yang sesuai dengan kebutuhan. Seperti misalnya paket ujian, yang berisi Pensil 2B, penggaris khusus ujian, penghapus, rautan, hingga papan ujiannya. Pun ketika pandemi melanda dan mengisahkan belajar online, Faber-Castell berinovasi kembali dengan menyediakan paket belajar online yang terdiri dari pensil 2b, ballpen, penghapus, rautan, dan tentunya stylus.

src img : Faber-Castell

Pada kesempatan webinar kemarin, Pak Christian Herawan selaku Product Manager PT Faber-Castell International Indonesia, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari pengamatan dan survey yang diharapkan dapat menjadi solusi praktis akan kendala-kendala yang hadir saat PJJ.Β Ini adalah inovasi cerdas dari Faber-Castell yang peka pada situasi saat ini. Stylus Faber-Castell ini bukan berbentuk seperti pensil tapi hanya sepanjang crayon yang terdapat lubang untuk bisa dimasukkan pensil untuk kemudahan menulis. Jadi bagi anak-anak ini tidak akan terasa aneh, karena mereka seperti memegang pensil biasa namun ditulisnya di tab.

Stylus ini berfungsi hampir di semua jenis smart phone dan bisa di gunakan untuk menulis, menggambar, tanda tangan, hingga memudahkan meng-klik pilihan jawaban pada saat ujian di google form.

Bagi saya inovasi ini menguntungan sekali, baik dari segi kegunaan hingga harga. Untuk 1 paket belajar online, hanya berkisar di angka Rp. 35.000 saja, dan bisa didapat dengan mudah di toko buku atau pun official store Faber-Castell di marketplace. Harga segitu udah dapat Stylus lhooo.

So, gimana? udah dapet satu kemudahan lagi nih dari PJJ. Mau tetap PJJ atau pilih PTM?
Ini sih sebenernya balik lagi ke pribadi dan kesiapan masing-masing. Kalau sayaaaa… ternyata saya sudah mulai menikmati PJJ dan sepertinya kendala-kendalanya sebagian sudah ada solusinya.

Namun jika merefleksikan hal itu pada pendidikan Indonesia yang tampak pada masa sekarang ini, Indonesia masih butuh terus mengejar perbaikan di berbagai sisi jika mau mulai berubah ke sistem online. Mulai dari peningkatan SDM, teknologi, hingga kurikulumnya. Bagaimanapun mekanisme pembelajaran ini kedepannya, saya berharap pendidikan Indonesia bisa lebih maju, efisien, dan melahirkan generasi yang tidak hanya menitikberatkan pada hasil tapi juga memahami dan menikmati prosesnya.

 

See You Around,

 

 

 

37 Komentar

  • Cory Pramesti

    Sebagai anak kuliahan yang punya prodi harus sering ketemu dosen (karena lebih masuk dan bisa langsung praktek sekalian) lebih suka PTM daripada PJJ, tp karena sudah hampir satu tahun menjalani PJJ, rasanya ya nano-nano, antara seneng karena banyak waktu luangnya dan gak perlu jauh2 dateng ke kampus, tp kangen juga suasana kelas sama ketemu temen2 langsung :'(

    • Andina

      Penuh Tantangan ya mengajar anak dengan PJJ. Anak2 mba kreatif sekali pakai app untuk tugasnya! Semoga para orangtua selalu semangat menemani dan mengawasi anak belajar

      • Vero

        Saya juga mendampingi anak-anak PJJ, Mbak. Orangtua pun ditantang untuk lebih kreatif dan lebih banyak belajar lagi, ya. Apalagi, menghadapi mood anak-anak yang naik turun. Susah tapi seru! 😊

        • Momtraveler

          Sebagai orangtua sekaligus pengajar rasanya kenyang si sama drama PJJ. Kalo boleh milih pengen segera bisa PTM lagi biar belajar lebih efektif. Semoga anak2 dan para guru tetep kuat dan bisa makin kreatif dalam mengajar krn entah sampe kapan bakalan PJJ gini

  • Bunda Dina

    Memang berat situasi yang dihadapi generasi sekarang.. Beratnya karena situasi sekarang ini akan jadi bom waktu di masa depan, generasi ini tidak cukup siap menghadapi kondisi yg juga makin berat. Ilmu yang kurang dalam. segala hal, akan membuat posisinya lemah.

    Sangat memprihatinkan. Gak bs saya bayangkan bila ini terjadi ketika anak anakku masih kecil.

    • Elin

      Betul bun, ini ngga cuma akademis yang harus di genjot tapi juga hal2 lain yang berkaitan dengan lingkungan dan sosialnya

  • Firmansyah

    Menarik juga pembahasannya, Mbak.
    Tapi kalau kita mau coba flashback lagi, PJJ mungkin juga tidak akan tercipta ‘secepat’ ini dan kita tidak akan ‘seterbiasa’ ini, kalau bukan karena adanya pandemi Korona ya? Dibalik peliknya pandemi ini, bersyukurnya masih banyak hikmah yang masih bisa kita petik ya, Mbak, salah satunya ya pemaksimalan penggunaan teknologi dalam bidang Pendidikan. Tentu saja masih banyak yang harus ditelaah dan diperbaiki kembali dari apa-apa yang sudah kita alami selama menjalankan PJJ ini ya. Semoga pendidikan di Indonesia terus membaik dan semakin maju serta didukung oleh banyak pihak, seperti Faber-Castell di atas misalnya.

    Terima kasih untuk ulasannya, Mbak.
    Salam hangat. πŸ™‚

    • Elin

      betul mas, kalo mas Firman sudah jadi bapak2, ada baiknya kasih support buat istri mas, berat betul itu ngatur waktu sama sabarnya heheheh

  • Siti Nurjanah

    Era Pandemi seperti sekarang ini
    Kegiatan belajar mengajar itu jadi tantangan yg cukup berat. Beruntung yg tinggal diperkotaan dgn akses internet memadai. Tak terbayangkan yg dipelosok dan daerah,
    Selain itu anak2 pasti sangat merindukan suasana belajar tatap muka, namun utk saat ini harus tahan dan beradaptasi dgn keadaan ya

  • Asty Intan Pratiwi

    Teman-teman saya juga mengeluhkan hal yang sama selama pandemi ini, akhirnya efektivitas belajar jd menurun, bahkan banyak yang prnya dikerjakan sama ortu, jd anak gak bener2 belajar full. Huhu serba salah sih ya apalagi pandemi ini melonjak lagi dan udah banyak korban anak2, makin gak berani aja belajar tatap muka. Semoga pandemi segera berakhir :”

    • Elin

      Betul mba, ngaruh banget emang dari lingkup terkecil. untuk orang tua yang mampu (dalam berbagai hal ya) biasanya anak udah bisa ngikutin juga, atau at least ngga terlalu stress lah

  • Ning!

    Aku tinggal di desa dan masalah intermet juga ketidakmampuan orang tua untuk membelikan smartphone untuk anaknya memang marak terjadi. Apalagi di sini rata-rata petani, yang ayah ibunya nggak sekolah. Ada yang sekolah juga kebanyakan sampai SD saja. Jadi rata-rata mereka gaptek. Jadi suka stress kadang, sering curhat saat beli sayur. Ada juga yang sudah gregetan dengan anaknya, jadinya semua tugas dikerjakan ibunya.

    Duh, semoga pandemi ini segera berakhir. Dan kembali normal.

  • Hastin Pratiwi

    Pembelajaran daring memang ada positif dan negatifnya ya, Mbak, aku setuju dengan tulisannya.
    Meski nilai anakku yang naik kelas 6 ini cenderung turun setahun terakhir, aku bisa menerima karena memang kondisinya harus demikian.
    Positifnya, dia jadi lebih kreatif, tambah jago ngedit video anime, menulis di Wattpad, dan punya akun YouTube dengan 800-an subscriber gara-gara editan videonya. πŸ™‚
    Selalu ada sisi positif dan negatif dari satu kejadian.

    • Elin

      waaawww keren mba, ini juga dialami anakku,suka ngedit video, kita ambil sisi baiknya aja ya mba, yang penting belajar tetep jalanapapun kondisinya

  • Ardina

    Luar biasa sekali y memang bun, dari gurunya, murid, dan orang tuanya memang harus dituntut kreatif dan bisa beradaptasi. Btw lumayan juga y mba stylusnya seharga segitu udah dapet lengkap pula πŸ˜€

  • Aqmarina - The Spice To My Travel

    Anak-anak generasi sekarang memang ditantang untuk harus bisa beradaptasi ya mbak.. ngga kebayang dulu kalau ngga masuk sekolah setahun, pastinya aku juga akan stress untuk selalu belajar dirumah.. apalagi dengan kurikulum yang sama seperti disekolah. Awal-awal pasti senang, libur terus, tapi lama-lama pasti bosan.. Semangat mereka semua!

    • Elin

      iya katanya sih generasi ini akan berbeda, masih terus berharap semoga lebih banyak dampak positif yang mereka bawa buat kedepannya

  • Ilsa Destiana

    Menurut aku sih emang udah saatnya menerapkan sistem pjj, dengan memanfaatkan fasilitas serba digital, tapi harus menyesuaikan dengan kondisi daerahnya juga, apakah mendukung atau tidak, mulai dari koneksi jaringan internet, dsb.

    Namun, emang lebih seru ptm sih karena bisa berinteraksi dengan teman2..🀣

  • rahma

    Eh kaget baca judul awalnya kirain PJJ nya Pacaran Jarak Jauh hehehe.. wuih fiber castle nya boleh juga ya mba, affordable juga.. Apa ini bisa untuk ipad kah?

    • Elin

      adudududu… janganlah pacaran jarak jauh, yang deket aja bisa kabur , eh lho kok malah bahas pacaran? hahaha
      Bisa untuk ipad mba, sudah dicoba buat gambar juga di ipad

  • Dian

    aku setuju sama poin guru dituntut harus lebih kreatif dari biasanya karena anak kecil mudah teralihkan perhatiannya, apalagi pjj ya susah ngontrol jarak jauh :”)

      • Elis

        Wah kalo seperti yang di cerita ini, yang kreatif bukan hanya anak-anak tapi juga ibunya. Kalo ibunya diam-diam saja tidak memperhatikan tugas dan kendala anak-anaknya, bisa jadi mereka kurang berkembang. Mbak emang ibu yang keren, tahu karakter masing2 anaknya.

        Terkait faber castel, saya jadi teringet masa lampau, saat mau test bawa2 pensil 2B dan penghapusnya… Produk ini bertahan lama.

  • Musdalifah

    Faber Castell memang paling bisa membca isi hati kami. Paket belajar online yang harganya affordable kek gitu bisa dimiiki oleh semua kalangan. Mantap e Faber Castell.

  • bening

    PJJ oh PJJ. enggak cuma gurunya yang darting, tapi emak bapak si anak di rumah juga ikutan darting.
    Tapi hikmahnya, jadi guru harus makin sabar dan mau terus belajar

  • Listiorini Ajeng Purvashti

    Teman kantorku yang punya dua anak pun biasanya suka mengeluhkan hal yang sama seperti ini mba.. anak-anak sudah tidak tertarik belajar dan kangen sama temannya..

    Jangankan anak sekolah, saya yang cuma sesekali WFH aja bosen juga loh banyak diem di rumah ruang gerak terbatas huhu

  • Dedew

    Iya anak-anak jadi lebih terbiasa membantu pekerjaan rumah ya hanya bingung mau kasih kegiatan apa setelah belajar akhirnya kuajak ngedrakor, main sepatu roda di kompleks, atau masak-memasak hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *