Knowledge,  Ramadhan

Bedanya Zakat, Infaq, dan Shodaqoh, Serta Siapa yang Berhak Menerimanya.

Selain sebagai graphic designer, saya juga freelance di sebuah penerbitan indie di Jogja. Kapan-kapan saya ceritain lengkap deh ya soal penerbitan ini. Kalo sekarang singkatnya aja ya.

Jadi penerbitan ini punya cabang di Sumatera, saya freelance di Pusat dan di cabang. Saya dipercaya membawahi divisi creative. Tadinya Jobdesk saya seputar cover dan layout, tapi karena loadnya udah lumayan, akhirnya saya cuma ngerjain cover di pusat, sementara di cabang udah ada orang yang bisa saya delegasikan untuk urusan cover dan layout. Kalo pas lagi ngga penuh, saya kena juga bagian editing dari kantor cabang. Nah inilah yang kemudian bikin saya inget soal zakat, infaq, dan shodaqoh. Karena kayannya udah ada 2 buku tentang ini yang saya edit. Dari tugas ngedit buku, kita secara ngga langsung jadi ikut empelajari isi bukunya. Dari mulai hal yang belum pernah kita baca sampai nyocok-nyocokin kesamaan data.

Berkaitan dengan tema kali ini soal Zakat, Infaq, dan Shodaqoh, ini saya ambil cuplikan isi buku yang pernah saya edit itu ya.

Persamaannya aja dulu, sama-sama mengeluarkan harta kita di jalan Allah. Saya selalu membayangkan kita lagi belanja tapi ‘barang belanjaannya’ dikirim ke alamat rumah kita di akhirat kelak. Selain itu sama-sama ngga akan membuat kita miskin, seberapa banyak pun harta yang kita keluarkan, yang ada biasanya malah tambah banyak, atau setidaknya tambah berkah.

Sedangkan perbedaan zakat, infaq, dan shodaqoh adalah :

  1. Zakat. Sifatnya wajib, seseorang dengan syarat tertentu wajib mengeluarkan sebagian hartanya untuk Zakat. Misalnya Syarat dan ketentuannya sudah ada yang atur seperti misalnya Badan Amil Zakat atau Dompet Dhuafa. Mereka membantu kita untuk menghitung berapa batasan jumlah harta kita sehingga seseorang dikatakan wajib mengeluarkan zakat. Berpa yang dikeluarkan, siapa yang berhak menerima juga sudah ada aturannya.
  2. Infaq. Bersifat sukarela atau seikhlasnya. Pemberian harta kepada orang lain untuk membantu pemenuhan kebutuhan hidup. Seperti misalnya saat kita memasukkan uang di kotak amal atau kotak infaq di masjid, pemberian kita ke peminta-minta.
  3. Shodaqoh. Sifatnya uga sukarela, namun ini memiliki cakupan yang lebih luas dan tidak melulu berupa uang. Senyummu untuk sodaramu juga bisa disebut shodaqoh.

Karena Infaq dan Shodaqoh bersifat sukarela, maka kita bahas zakat aja ya, soalnya wajib nih. Kita jadi butuh tau kenapa zakat itu wajib dan kemana harta kita ini diberikan.

Zakat terbagi menjadi beberapa pos-pos, misalnya Zakat Fitrah, Perdagangan, Pertanian, Penghasilan, Emas dan Perak, Hewan ternak, Investasi, Tabungan, dan Rikaz. Tiap-tiap pos ini cara menghitungnya sudah pasti berbeda-beda, bahkan untuk hewan ternak pun masih dibagi lagi untuk ditentukan kisaran pengeluaran zakat berdasarkan jenis hewan ternak yang dimiliki. Semua itu perlu dikeluarkan zakatnya agar kita mensucikan harta kita, karena ada hak orang lain di tiap-tiap harta yang dititipkan pada kita.

Lalu siapa saja sih yang berhak menerima Zakat? 

  1. Al-fuqara. Orang fakir atau yang kehidupannya melarat, tidak memiliki harta dan atau tenaga untuk memenuhi kebutuhan wajib hidupnya maupun keluarganya.
  2. Al Masakin. Hampir mirip dengan Al fuqara, namun Al Masakin masih sanggup untuk berpenghasilan, hanya saja masih dibawah kebutuhan hidpnya.
  3. Al ‘Amilin. Orang yang bertugas sebagai petugas pajak, dari mulai menghitung, mengumpulan, sampai mendistribusikan. Tugas ini tentunya tidak dienban oleh sembarang orang, hanya orang-orang dengan syarat tertentu yang telah dipilih oleh seorang Imam. Atas pekerjaannya itu, ia berhak mendapat imbalan berupa zakat.
  4. Mualaf. Orang yang baru memeluk islam dan masih ada kebimbangan di hatinya. Dia berhak menerima zakat sebagai pengenalan atas salah satu ajaran islam dan juga sebagai pengangkat kehormatannya sebagai muslim
  5. Dzur Riqab.Budak datau hamba sahaya yang ingin memerdekakakan diri dari majikannya dengan tebusan sejumlah uang. Zaman sekarang sepertinya sudah tidak ada perbudakan ya, namun Dzur Riqab juga termasuk orang muslim yang ditawan oleh orang kafir.
  6. Al Gharim. Orang yang berhutang untuk memenuhi kebutuhanya selama bukan untuk hal-hal maksiat, namun kemudain dia tak sanggup membayarnya
  7. Al Mujahidin. Orang yang berjuang di jalan Allah, tanpa imbalan apapun, hanya ingin menegakkan kebenaran Islam dan mendapat Ridho Allah.
  8. Ibnu Sabil. Seorang musafir, atau orang yang sedangmelakukan perjalanan unuk kebaikan, lalu kemudian dia mengalami kesudahan atau kesengsaraan dalam perjalanannya.

Pengeluaran zakat terdekat adlah zakat fitrah, biasanya saya melakukannya di malam takbiran, tapi sebenernya ini bisa saja dilakukan selama bulan ramadan hingga sebelum melakukan sholat Idul Fitri. Biasanya berupa uang atau beras, namun bisa juga berupa kurma, gandum, sagu, jagung dan makanan pokok lainnya

Ketentuan cara perhitungan Zakat Fitrah menurut ajaran di Agama Islam yaitu sebesar 1 satu Sha yg berarti 4 Mud dan untuk 1 Mud sendiri bernilai 676 Gram. Nah karena ini butuh detail, maka kemudian perhitungannya disederhanakan menjadi 2,5kg atau 3,5 liter beras per kepala.

Pernah juga suatu kali saya ketika hendak membayar zakat fitrah ternyata di masjid yang saya datangi hanya menerima uang. Jika demikian, maka tinggal kalikan saja berapa harga per kg atau liter beras yang biasa kita makan sehari-hari. Ngga tau? Kalo di pasaran harga beras dari range 8500-13.500. Jadi bagi kalian yang terbiasa tinggal makan, baiknya tanya deh sama orang rumah yang biasa beli beras, buat persiapan zakat besok.

Semoga dengan zakat, harta kita makin berkah dan suci. aamiin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *