Lifestyle

Sikat Gigi saat Puasa Boleh ngga sih?

“Boleh laaaah. Kalo ngga sikatan, tambah bau mulut kita”.
“Ah masa sih boleh? tar kalo ketelen gimana?”
“Ya masa iya sih pake segala ketelen, hati-hati sikatnya. Sengaja ditelen kali tuh?”
“Jadi kalo ngga sengaja gapapa?”
“Hmmm…ya ngga papa kali, kecuali ketelen se-sikat-sikatnya, mokat kita”.
“Yeee..seriusan nanya nih aku, boleh ngga sikat gigi saat puasa?”
“Boleh!”
“Yakin banget”
“Ya emang boleh, emang siapa yang ngelarang? Negara, Pak Haji, Bapakmu? Ngga ada peraturan larangan menyikat gigi saat puasa kan?”
“Oiya, ner uga. Ganti ah pertanyaannya, sikat gigi saat puasa bikin batal ngga?”
“NAAAHHH.. gitu dong, bikin pertanyaan yang rada susah dikit kek.”
“Shombonk! Sok dijawab.”
“Jadiii….”

Sudah tentu ya kita butuh sikat gigi setiap hari, ngga puasa aja kita sikat gigi, apalagi puasa, saat mulut kita kering dan bau, pasti jadi dilema nih kalau mau ngobrol sama orang lain.

Pada dasarnya agama Islam sangat mencintai kebersihan. Untuk masalah kebersihan mulut, pada jaman dahulu Rasulullah menyikat gigi dengan kayu siwak (miswak), yaitu akar atau batang dari pohon arak (Salvadora persica). Dalam Hadist riwayat Nasa’i, Aisyah radliallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Bersiwak bisa membersihkan mulut dan mendatangkan ridha Allah.” (HR. Nasa’i dan dishahihkan al-Albani

Dari hadist tersebut jelaslah bahwa perkara bersiwak ini dianjurkan dan mendatangkan kebaikan. Tapi sebenernya gimana sih hukum menyikat gigi saat puasa?

Imam Nawawi, dalam al-Majmu’, syarah al-Muhadzdzab menjelaskan: 

لو استاك بسواك رطب فانفصل من رطوبته أو خشبه المتشعب شئ وابتلعه افطر بلا خلاف صرح به الفورانى وغيره

Artinya: Jika ada orang yang memakai siwak basah. Kemudian airnya pisah dari siwak yang ia gunakan, atau cabang-cabang (bulu-bulu) kayunya itu lepas kemudian tertelan, maka puasanya batal tanpa ada perbedaan pendapat ulama. Demikian dijelaskan oleh al-Faurani dan lainnya. (Abi Zakriya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, juz 6, halaman 343)

Nah, diatas ada kata-kata yang intinya kalau sedang bersiwak dan ada air atau bagian siwak yang tertelan, maka puasanya batal. Tertelan disini artinya kan tidak sengaja menelan, tidak sengaja pun akan batal. Padahal mengatur agar air tidak tertelan itu udah harus hati-hati, dan itu pun apakah kita sudah cukup yakin bahwa tidak ada air setetespun yang tertelan?

Kalau saya, dari pada ragu atau ngga yakin, mending ditinggalkan saja. Kita pilih jalan yang aman. Jadi sikat gigilah sebelum imsak, sekalian pake mouthwash dan juga sikat bagian lidah, ini akan bikin nafas segar lebih lama.
Dan buat kalian yang mengharuskan bertemu dengan banyak orang tapi ngga cukup pede dengan bau mulut saat berpuasa, bisa atasi dengan cara berbicara dari jarak yang cukup aman, agar polusi udara dapat diminimalisir :D.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *